FUNDAMENTALIS DAN ATHEISME-farhanmuhammad
FUNDAMENTALIS DAN ATHEISME
1.
Konteks
Sejarah
Kata Fundamentalis sering digunakan
untuk mengkategorikan aliran teologi yang bersifat eksklusif, dan pada umumnya
menolak adanya reinterpretasi terhadap ajaran-ajaran keagamaannya yang dianggap
sudah mapan. Atheisme, seringkali dikatakan sebagai ajaran yang menolak
keberadaan Tuhan, baik yang agnostik (ada atau tidaknya Tuhan tidak diketahui)
maupun yang gnostik (Tuhan memang jelas tidak ada).
Fundamentalis dalam Atheisme,
merupakan sebuah respon dari beberapa
perkembangan yang sedang dipopulerkan yang dianggap sebagai “Neo-Atheism”, oleh
para atheis yang tidak sependapat dengan adanya garis-garis peraturan dalam
ber-Atheis.
Hal ini dapat dilihat dalam beberapa
peristiwa yang dilakukan oleh para Atheis-Fundamentalis seperti diantaranya
adalah adanya peristiwa yang berkaitan dengan pengaruh dari para
Atheis-Fundamentalis dalam sebuah pidato mengenai dugaan perang Natal, pada
bulan Desember 2007, di Gereja Anglikan, Archbishop, Wales. Selain itu ada juga
tulisan berupa artikel disebuah situs web bernama “Evolution News & Views”,
yang berjudul “ Fundmentalis Atheis dan Batas-batas Ilmu Pengetahuan”.
Atheis-Fundamentalis, dapat pula
dikatakan sebagai bentuk penolakan dari para Atheis terhadap para Atheis
lainnya yang membuat Atheis menjadi memiliki batasan dan sebuah doktrin seperti
ajaran layaknya yang ada dalam sebuah wadah seperti agama. Meskipun Atheis
tidak banyak diketahui kecuali dari pengakuannya, pelebelan diatas bisa saja
dikatakan oleh orang yang beragama dan bukan Atheis, karena secacra tidak
langsung, adanya penolakan dari sikap fundamental tersebut menguntungkan disisi
orang yang beragama sebagai penguatnya.
2.
Doktrin
Utama
Pada dasarnya
Atheis itu muncul karena adanya penolakan terhadap adanya Tuhan, baik beralasan
dengan ilmu pengetahuannya, maupun rasa kekecewan tehadap apa yang tidak mereka
raih dalam beragama yang mengakibatkan awalnya bersikap apatis terhadap
soal-soal ke-Tuhan-an.
Sebutan
Atheis-Fundamentalis terhadap sebagian Atheis yang lainnya, salah satunya
disebabkan adanya teori yang dibuat oleh seorang Atheis yang merupakan juga
seorang penulis, ahli etologi dan ahli biologi evolusioner yang bernama Richard
Dawkins, salahsatu bentuk buku karangannya yang berjudul The God Delusion,
yang menuai kritikan dari seorang
kritikus Teolog, Alister McGrath, dengan sebutan The Dawkins Delusion,
dengan judul Atheist-Fundamentalism dan Denial of the Devine.
Teori yang yang
dikemukakan oleh Dawkins berbunyi :
Skala 7 point
“ 1 menjadi
kepercayaan fundamentalis dan 7 menjadi ketidakpercayaan fundamentalis.
Walaupun tampaknya ada banyak individu yang menempatkan diri mereka sebagai
‘1’, tidak ada Atheis yang berpikir menganggap diri mereka sebagai yang ‘7’,
karena Atheis muncul, dari kurangnya bukti, dan bukti selalu dapat mengubah
fikiran orang yang berfikir. Oleh karena itu, Atheism-Fundamentalism merupakan
distorsi dari definisi fundamentalis yang diterima”
“Skala 7 poin”
oleh Richars Dawkins
3.
Karakteristik
Umum Gerakan
Atheis-Fundamentalis
juga dapat dikatakan sebagai Anti-Theis, yang kebanyakan darinya tidak hanya menolak adanya
Tuhan, bahkan bersikap anti agama, lebih dari itu, sikap yang menolak hak asasi
umat beragama dan hak khusus agama juga dapat terlihat dari tingkah mereka
(Anti-Theis).
Berbeda dengan
Atheis kebanyakan, Anti-Theis ini meskipun sama dalam masalah menolaknya akan
keyakinan terhadap Tuhan, mereka lebih keras meski dengan Gnostik-nya. Mereka
yang hanya menerima sesuatu yang ilmiah semata, dilain sisi sebagai sub-Atheis
yang menekankakn sikap kritis dan mendahulukan rasional terhadap semua aspek
kehidupan.
Yang membuatnya
berbeda antara Anti-Theis dengan Atheis, dimana pada dasarnya sikap yang
menolak kepercayaan terhadap Tuhan sebagaimana Atheis adanya, menolak adanya
sesuatu yang bersifat mutlak dan otoritatif, baik berupa teks maupun yang lainnya, yang seolah
dapat mengatur jalannya kehidupan manusia secara menyeluruh. Maka pada
substansinya Atheis yang bukan merupakan suatu ajaran tertentu dengan adanya teori-teori doktrin yang bersifat
mutlak. Maka sebenarnya Atheis-Fundamentalis itu sendiri merupakan sebutan dari
para Atheis yang menolak sikap-sikap dan tindakan yang dinilai sebagai golongan
yang fundamental cenderung radikal seperti contoh adanya pengaruh dari beberapa
orang Atheis terhadap perang natal sebagaimana keterangan diatas.
Anti-Theis yang
kerap disandingkan namanya dengan sikap yang fundamental dianggap keliru karena
pada dasarnya sikap fundamental tidak dapat disandingkan dengan Atheis, karena
Atheis bukanlah sebuah sub-bagian tertentu yang mengeluarkan diri dari suatu
agama tertentu lalu berpindah kedalam bentuk lainnya yang memiliki otoritas keagamaan seperti yang
lainnya. Dikatakan pula seorang fundamentalis merupakan seorang yang secara
ketat meganut doktrin atau dogma tertentu, dan tidak memberikan ruang perubahan
atau penyimpangan dari ide-ide dan praktik-praktik yang ada dalam suatu isme
yang dianutnnya, dan sedikit ada persamaan dengan puritanism yang mana mereka
merupakan bentuk dari sebuah gerakan pemurnian terhadap ajaran yang mereka
anggap sudah mapan.
Fundamentalism
dan puritanism banyak yang berpendapat hanya dapat disandingkan dengan suatu
ajaran tertentu. Terlebih dikatakan bahwa Atheis menurut definisi pada awalnya
merupakan bentuk dari tidak memiliki suatu keyakinan yang bersifat positif yang
kaku dan melekat padanya tanpa ada doktrin tertentu. Maka dapat dikatakan,
tidaklah terdapat suatu golongan yang dapat dikatakan “lebih Atheis” dari pada
kepercayaan umum, dan karenanya tidak ada perbedaan antara “seorang
fundamentalis” dan jenis “Atheis” lainnya.
4.
Contoh,
Model, dan Tokoh Gerakan
a.
Communist
Party
Adalah
bentuk dari peristiwa yang dilakukan oleh para komunis yang sebenarnya
Anti-Theistik bukan Atheis, Anti-Theistik tidak hanya sebatas pada penolakan
Tuhan, tetapi berkembang menjadi kebencian agama yang cukup aktif da n semua hal yang terkait dengannya. Terlebih
mereka tidak menentang hak asasi manusia untuk umat beragama, dan terkadang
mereka juga menentang hak khusus untuk agama, kecuali hal itu terjadi dalam
lingkup kelompok yang sekuler.
b.
Christopher
E Hitchens
Dia
adalah seorang Anti-Theis. Ia berpendapat babhwa konsep Tuhan, merupakan
kepercayaan yang bersifat totaliter yang dapat menghancurkan kebebasan
seseorang.
c.
Georges
Bataille
Seorang
yang banyak dipengaruhi Nietzsche, Wartawan, dan filsuf. Ia mengatakan bahwa
peradaban dibarat modern ditandai dengan mitos “tidak adanya mitos”
d. William Blake
d. William Blake
Seorang
penyair d an pelukis yang menyatakan bahwa agama merupakan yang terorganisir
sebagai penindasan
e.
Vladimir
Lenin
Seorang
yang ada dibalik peristiwa Communist Party yang ada dia Uni Soviet sebagai
negara komunis, ia percaya bahwa semua agama hanya menjadi organ reaksi
borjuis, yang digunakan untuk melindugni eksploitasi, kelumpuhan dan kedok dari
kelas pekerja.

Komentar
Posting Komentar